Panduan Pelaksanaan Failure Mode And Effect Analysis (FMEA) Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Curup

 10,378 total views,  4 views today

 

    

1.1 Latar Belakang
Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah peningkatan kualitas proses berkelanjutan yang dilakukan dalam organisasi kesehatan oleh tim multidisiplin. FMEA merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi, memprioritaskan, dan mengeliminasi potensial kegagalan dari sistem, desain atau proses sebelum sampai pada pelanggan.Failure Mode diartikan sebagai sejenis kegagalan yang mungkin terjadi, baik kegagalan secara spesifikasi maupun kegagalan yang mempengaruhi konsumen.

Metode ini dikembangkan sekitar tahun 1960-an, ketika gerakan mutu mulai timbul. Pemakaian secara formal dimulai di industri dirgantara sekitar tahun itu, dimana kepedulian terhadap keselamatan penerbangan sangat tinggi. Sasaran awal FMEA adalah mencegah terjadinya kecelakaan yang dapat membahayakan nyawa orang. Sasaran ini juga masih berlaku hingga saat ini., hanya sasaran penggunaan FMEA saat ini sudah sangat luas. Namun pada intinya adalah mencegah terjadinya kegagalan dan dampaknya sebelum terjadi.


Tidak seperti Root Cause Analysis (RCA), yang dilakukan secara retrospektif dalam menanggapi peristiwa KTD/sentinel, FMEA adalah proses proaktif yang mengakui bahwa kesalahan tidak dapat dihindari dan dapat diprediksi. Ini mengantisipasi kesalahan dan desain sistem yang akan meminimalkan dampaknya. FMEA akan mengungkapkan bahwa kesalahan dapat ditoleransi atau bahwa kesalahan akan dicegah oleh sistem yang merupakan bagian dari sistem perbaikan sistem kesehatan yang berkualitas. Dalam kasus lain, FMEA mengungkapkan bahwa langkah spesifik harus diberlakukan untuk mengatasi potensi kesalahan dengan kesalahan-dampak yang signifikan yang terjadi.
FMEA mulai sebagai proses yang agak rumit yang digunakan oleh industri di luar kesehatan seperti industri mobil dan pesawat terbang. Saat ini, keselamatan pasien merupakan prioritas dalam perawatan kesehatan. Oleh karena itu teknik ini telah mulai diaplikasikan dalam perawatan kesehatan. Meskipun FMEA sekarang menjadi persyaratan berdasarkan Standar Keselamatan Pasien JCAHO (LD.5.2), proses dimodifikasi dan metode kreatif dapat digunakan untuk memeriksa secara teratur proses yang berpotensi berbahaya dan penggunaan produk medis termasuk obat dan perangkat.

1.2 Tujuan Disusunnya Buku Panduan Pelaksanaan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Keselamatan Pasien Rumah Sakit
Tujuan Umum:
Memberikan informasi dan panduan bagi petugas dalam melaksanakan pemecahan masalah menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
Tujuan Khusus:
1. Sebagai panduan dalam memahami tahapan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) di rumah sakit
2. Sebagai panduan dalam penerapan metode FMEA dalam melaksanakan langkah menuju keselamatan pasien (patient safety)
3. Sebagai dokumen akreditasi rumah sakit

BAB II
FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA)
KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT

2.1 Persiapan
1. Bentuk tim
Syarat :
1) Multidisiplin
2) Tidak lebih dari 10 orang
3) Memiliki pengetahuan tentang proses yang akan dianalisis & komitmen terhadap “performance improvement”
4) Mewakili bidang yang akan dianalisis
5) Melibatkan orang dengan “analytical skill”
6) Setidaknya ada satu leader (pemimpin)
7) Satu orang yang memiliki “critical thinking”

2. Cek apakah anggota tim sudah mewakili :
1) Orang dengan masalah yang akan diteliti / dianalisis
2) Orang yang penting untuk penerapan perubahan yang mungkin diperlukan
3) Pemimpin yang memiliki pengetahuan, dipercaya dan dihormati
4) Orang yang memiliki kewenangan memutuskan
5) Orang-orang dengan pengetahuan yang sesuai

2.2 Pelaksanaan
1. Review proses
1) Pilih proses yang berisiko tinggi

2. Brainstormingberbagai bentuk kemungkinan kesalahan atau kegagalan proses
1) Proses brainstorming:
a. Pilih dan tentukan seseorang yang akan memimpin proses brainstorming
b. Pemimpin menjelaskan tujuan pelaksanaan brainstorming
c. Pemimpin menjelaskan tatacara pelaksanaan brainstorming kepada anggota tim
d. Brainstorm
e. Pimpinan diskusi menyimpulkan daftar alternatif kemungkinan kesalahan atau kegagalan yang dapat terjadi dalam proses yang telah dianalisis
2) Susun proses yang akan diidentifikasi
3) Beri nomor pada setiap proses
4) Identifikasi semua subproses untuk setiap proses teridentifikasi
5) Susun subproses yang teridentifikasi

3. Membuat daftar dampak tiap kesalahan
1) Buat daftar failure mode dari komponen, subsistem, sistem, proses, dan lainnya
2) Buat daftar dampak / failure effect dari masing-masing kesalahan
3) Buat daftar penyebab dari masing-masing kesalahan

4. Menilai tingkat dampak (severity) kesalahan
Tentukan nilai dampak (severity) kesalahan (Lihat kriteria Severity)

Tabel 1.1 Modifikasi Kriteria Evaluasi dan Sistem Peringkat untuk dampak
(Severity of Effects) dalam FMEA
Deskripsi Definisi Nilai
Berbahaya a. Kegagalan menyebabkan kematian atau kecacatan
b. Kematian atau kerugian permanen terhadap fungsi organ tubuh (sensorik, motorik, psikologik, atau intelektual), bunuh diri, pemerkosaan, reaksi transfusi, operasi pada bagian atau pada pasien yang salah, pemberian bayi pada orang tua yang salah
c. Kematian; atau perawatan ≥ 3 pengunjung
d. Kematian; atau perawatan ≥ 3 staf

Tinggi a. Kegagalan menyebabkan kerugian yang lebih besar terhadap pasien
b. Kerugian terhadap fungsi organ tubuh (sensorik, motorik, psikologik, atau intelektual) diperlukan operasi lebih lanjut, perpanjangan hari rawat untuk ≥ 3 pasien, peningkatan level pelayanan untuk ≥ 3 pasien
c. Perawatan untuk 1 atau 2 pengunjung
d. Perawatan 1 atau 2 staf atau 3 atau lebih, dan terjadi kecelakaan kerja 4
Sedang a. Kegagalan dapat mempengaruhi proses pelayanan kesehatan tetapi menimbulkan kerugian minor
b. Perpanjangan hari rawat atau perpanjangan kualitas pelayanan untuk 1 atau 2 pasien
c. Evaluasi dan penanganan untuk 1 atau 2 pengunjung
d. Pengeluaran medis, kehilangan waktu atau ada kecelakaan kerja untuk 1 atau 2 staf
e. Kerusakan lebih dari $10,000 tetapi kurang dari $100,000 3
Rendah a. Kegagalan yang tidak disadari oleh pasien dan tidak menimbulkan dampak dalam pelayanan kesehatan
b. Pasien tidak cedera, atau tidak adanya perpanjangan hari rawat
c. Evaluasi dan tidak dibutuhkan penanganan untuk pengunjung
d. Staf hanya penanganan ringan tanpa kerugian waktu atau tidak menimbulkan kecelakaan kerja
e. Kerusakan kurang dari $10,000 atau tanpa menimbulkan dampak terhadap pasien 2
Tidak ada Tidak ada efek 1

5. Menilai tingkat kemungkinan terjadinya (occurence) kesalahan
Tentukan nilai kemungkinan terjadinya (occurence) /probabilitaskesalahan

Tabel 1.2 Modifikasi Kriteria Evaluasi dan Sistem Peringkat untuk Occurence (kemungkinan
terjadi) dalam FMEA
Deskripsi Definisi Nilai
Sangat sering :
Kegagalan hampir tidak bisa dihindari Hampir sering muncul dalam waktu yang relatif singkat (mungkin terjadi setiap bulan) 5
Sering :
Kegagalan berulang Kemungkinan akan muncul
(dapat terjadi beberapa kali dalam satu tahun ) 4
Sedang :
Kegagalan kadang-kadang Kemungkinan akan muncul
(dapat terjadi beberapa kali dalam 1 – 2 tahun) 3
Jarang :
Kegagalan jarang Jarang terjadi
(dapat terjadi dalam 2 – 5 tahun) 2
Sangat jarang :
Kegagalan hampir tidak pernah ada Sangat jarang terjadi
(dapat terjadi dalam 5 – 30 tahun) 1

6. Menilai tingkat kemungkinan deteksi dari tiap kesalahan atau dampaknya
Tentukan nilai tingkat kemungkinan deteksi dari tiap kesalahan atau dampaknya

Tabel 1.3 Modifikasi Kriteria Evaluasi dan Sistem Peringkat untuk Detectiondalam FMEA
Deskripsi Definisi Nilai
Hampir tidak terdeteksi Deteksi tidak terjadi (100%) 5
Rendah Sedikit terdeteksi (30%) 4
Sedang Kemungkinan cukup terdeteksi (50%) 3
Tinggi Sering terdeteksi (80%) 2
Pasti terdeteksi Selalu terdeteksi langsung(100%) 1

7. Melakukan perhitungan dengan Risk Priority Number (RPN) dari tiap kesalahan dan dampaknya
1) Hitung Risk Priority Number (RPN) dengan rumus :

2) Hitung RPN untuk tiap-tiap kesalahan yang mungkin terjadi
3) Susun prioritas berdasarkan nilai RPN
4) Tentukan cut-off points

8. Mengembangkan action plan
1) Tentukan rekomendasi action atas modus kegagalan
2) Tentukan tindakan yang akan dilakukan
3) Tentukan tindakan dilakukan oleh siapa
4) Tentukan kapan tindakan dilakukan
5) Tentukan berapa waktu yang untuk tindakan
6) Tentukan dimana akan dilakukan
7) Tentukan sumberdaya yang dibutuhkan
8) Tentukan bukti penyelesaian
9) Tentukan rencana monitoring & evaluasi

9. Melakukan action
Lakukan tindakan sesuai action plan yang telah dibuat

10. Hitung ulang RPN
Hitung ulang RPN atas action yang dilakukan sesuai batas waktu yang telah ditentukan

BAB III
PENUTUP

Dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan di rumah sakit maka pelaksanaan kegiatan keselamatan pasien rumah sakit sangatlah penting. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi penekanan / penurunan insiden sehingga dapat lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Rumah Sakit. Program Keselamatan Pasien merupakan never ending process, karena itu diperlukan budaya termasuk motivasi yang tinggi untuk bersedia melaksanakan program keselamatan pasien secara berkesinambungan.

Comments are closed.